Rabu, 04 Februari 2009

Rindu Dokter Amanah

Rinaldo

Awal Oktober lalu, saat membuka Muktamar Ke-26 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Presiden Megawati Soekarnoputri menilai pelayanan rumah sakit dan dokter di Indonesia secara umum masih memprihatinkan, sehingga menimbulkan penilaian di sebagian kalangan masyarakat untuk lebih mempercayai rumah sakit di luar negeri.

Untuk hal ini, agaknya Presiden kita tidak salah, malah sangat betul. Pelayanan dokter atau rumah sakit tidak lagi sama dengan bayangan masa kecil kita, di mana seorang dokter itu selalu ramah, siap direpotkan kapan pun dan tanpa kenal lokasi. Sekarang, profesi dokter sudah seperti pejabat. Malah lebih parah lagi, kalau tak ada uang jangan coba-coba didatangi.

Sudah keluar uang segepok pun, belum jaminan pelayanan bakal memuaskan. Alih-alih sembuh, bisa jadi penyakit makin akut. Hal inilah yang kini membuat pengacara kenamaan Hotman Paris Hutapea berang. Pasalnya, istri tercintanya menjadi korban malpraktik dokter.

Saat diperiksa, dokter langsung menyatakan kalau sang istri punya penyakit berbahaya dan harus dioperasi. Beragam obat harus diminum. Namun bukannya sembuh, tapi tambah parah. Masalah malpraktik ini baru terkuak ketika Hotman membawa istrinya berobat ke Singapura.

Tak ada yang berbahaya dengan penyakit sang istri. Dengan sedikit obat dan tanpa operasi, penyakit langsung hilang. Artinya diagnosa dari seorang dokter di rumah sakit terkenal Ibu Kota itu salah besar. Terlambat sedikit saja bisa-bisa nyawa istri Hotman melayang. Tanpa ragu, Hotman langsung mengajukan gugatan ke dokter dan rumah sakit tempatnya berpraktik.

Sejak terkuaknya kasus tersebut, banyak orang-orang terkenal, terutama dari kalangan selebriti membeberkan pengalaman serupa. Bahkan, ada artis yang tahun lalu didiagnosa bakal bertahan hidup cuma dua bulan, namun hingga kini tetap bugar.

Bukan soal Hotman orang kaya atau artis itu orang terkenal yang disorot. Tapi, kalau orang yang punya uang dan pamor saja dilayani dengan sikap asal-asalan, bagaimana kira-kira diagnosa sang dokter kalau didatangi si Badu yang tukang becak, dan belum tentu mampu membayar tarif konsultasi?

Perkara malpraktik bukan soal baru, namun karena sering ditutup-tutupi dan dibela oleh korps dokter, jarang sekali kasusnya bermuara ke pengadilan. Memang tidak semua dokter bersikap asal-asalan dan pilih-pilih terhadap pasien. Dr. Bahar Azwar, dalam buku Sang Dokter, mengategorikan dokter di Indonesia ke dalam empat tipe.

Pertama, adalah dokter dengan jurus ”angin puyuh”. Rata-rata pasiennya 40-50 orang per hari. Ia buka praktik dari pukul 16.00 sampai pukul 22.00. Dikurangi waktu untuk acara makan ringan, sembahyang, berarti ia memberi waktu enam menit per pasien

Tipe kedua adalah dokter ”ban berjalan”. Bahar memberi contoh dokter kebidanan di sebuah rumah sakit swasta dengan pasien rata-rata 30 orang, sedangkan jam praktiknya hanya dua jam. Para pasien akan disuruh antri di beberapa tempat tidur sekaligus. Saat memeriksa tempat tidur pertama, pasien lain disuruh membuka baju, begitu seterusnya.

Dokter ”memukul angin” adalah tipe ketiga. Di sini terjadi di mana sekali periksa, seorang dokter langsung memutuskan agar pasien dioperasi tanpa banyak perundingan dengan pasien atau keluarganya.

Tipe terakhir adalah yang jarang ditemui di kota besar, yakni dokter ”amanah”. Biasanya dokter ini ada di desa-desa terpencil, di mana pasiennya tidak bisa membayar dengan uang nominal.

Artinya, dokter yang punya nurani dan empati hanya bisa ditemukan di tempat terpencil, di mana watak mereka belum rakus akan uang. Hipocrates layak berduka, karena ucapannya yang menjadi sumpah para dokter kita, tak lagi laku. ‘’Jadikanlah profesi dokter untuk menyembuhkan orang lain, bukan untuk menumpuk kekayan,’’ begitu kata Hipocrates. Tapi kini, bullshit!***

(Tulisan ini pernah dimuat di Harian PERINTIS edisi 17 Desember 2003)